Ruang, Waktu, dan Kamu


 Langit bergulung pelan di atas reruntuhan yang terapung.

Udara di sana tidak punya arah — seolah waktu sendiri berhenti menahan napas.


Cid berdiri di tepi celah antara dunia, memegang pecahan batu berbentuk segitiga yang berpendar biru pucat.

“Semua ini… berawal dari satu langkah kecil,” gumamnya.


Dari sisi lain, langkah lembut terdengar.

Masachika muncul dari kabut, mengenakan jubah lusuh yang tertiup angin seperti sisa mimpi.

“Kau masih mencari jawabannya?” tanyanya, suaranya tenang, tapi matanya menyimpan sesuatu — semacam duka yang sudah berdamai dengan waktu.


Cid menatap jauh ke horizon. “Aku pikir ruang dan waktu hanya tentang jarak. Tapi ternyata, kadang… jarak itu berbentuk rasa.”


Masachika tersenyum samar. “Rasa yang tidak pernah selesai, ya?”


Sekeliling mereka mulai retak perlahan — cahaya keemasan menembus celah di udara. Dunia ini akan runtuh, seperti ruang yang sudah tak sanggup menampung dua masa yang berbeda.


Cid melangkah mendekat, menatap Masachika.

“Jika aku melangkah maju, aku mungkin tidak akan mengingatmu lagi.”


Masachika menunduk sedikit. “Maka ingatlah apa yang membuatmu melangkah.”

Ia memegang tangan Cid, di mana batu segitiga itu berpendar lebih terang.

“Waktu bukan musuhmu, Cid. Ia hanya menunggu sampai kau siap untuk hidup.”


Suara denting halus bergema. Dunia seolah berhenti sebentar, lalu terurai jadi partikel cahaya.


Dalam cahaya terakhir, Cid mendengar bisikan samar:


"Kita akan bertemu lagi… di antara ruang dan waktu yang lain.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MirzPiwz